Museum
Museum Bahari
Selain museum Fatahilah, salah satu museum yang dikelola oleh Pemda DKI Jakarta adalah Museum Bahari. Museum ini letaknya berdekatan dengan pelabuhan Sunda Kelapa di kawasan Jakarta Kota.Bangunan Museum Bahari ini awalnya adalah berupa dua buah gedung bekas kantor perdagangan dan gudang rempah-rempah milik Belanda yang dibangun pada tahun 1652 ketika mereka datang ke Jakarta.

Hingga kini Museum Bahari telah mengalami beberapa perubahan dan tahun perubahan dapat dilihat pada pintu-pintu masuk, diantaranya tahun 1718, 1719 dan 1771.Gudang ini juga disebut Westzijdsch Pakhuizen atau "gudang-gudang bagian barat sungai." Pada mulanya bangunan ini berfungsi sebagai gudang rempah-rempah, seperti lada, teh, kopi, bahkan pula pakaian. Tembok yang mengelilingi museum itu adalah pembatas kota jakarta (city wall) asli dari jaman Belanda. Di depan museum ada Menara Syahbandar yang dibangun pada tahun 1839. Menara ini untuk mengawasi kapal yang keluar masuk pelabuhan Sunda Kelapa. Museum yang terletak di Jalan Pasar Ikan Jakarta Utara ini diresmikan sebagai Museum Bahari pada tanggal 7 Juli 1977 oleh Gubernur Ali Sadikin. Disini para pengunjung dapat menyaksikan berbagai jenis kapal dari berbagai daerah di Indonesia, gambar dan photo-photo pelabuhan pada masa lalu.

Salah satu koleksi unik di museum ini adalah sejaran keberadaan Pulau Onrust, yang merupakan salah satu pulau di gugusan Kep. Seribu. Pulau ini dahulu digunakan oleh Belanda sebagai benteng dan galangan kapal, kapal-kapal yang rusak atau butuh perbaikan akan dilarikan di Pulai ini.Hingga kini, reruntuhan benteng tersebut masih dapat disaksikan di pulau ini. Di Museum ini, foto dan maket keberadaan benteng dijelaskan secara rinci.Untuk mengunjungi museum ini tidaklah sulit, karena letaknya cukup mudah dijangkau. Dari setasiun Jakarta Kota, anda dapat mengambil kendaraan umum mikrolet 015 jurusan Kota-Tanjung Priok, turun di pelabuhan Sunda Kelapa. Dari sini anda cukup berjlan kaki karena jaraknya hanya beberapa puluh meter saja. Sepanjang jalan, anda dapat menyaksikan atau mungkin berbelanja aneka kerang dan barang-barang laut yang dijual di depan museum.

Museum ini dibuka untuk umum, setiap hari
Senin - Kamis, pulai pukul 8.00 - 14.00 WIB,
Jumat tutup pukull 11.00 WIB dan
Sabtu hanya buka hingga pukul 13.00 WIB.
Tarifnya relatif murah, untuk umum Rp. 2000, pelajar Rp. 1000 tentu saja kalau anda datang berombongan lebih dari 20 orang tarifnya akan lebih murah.

Sebuah gedung mewah bernama Hotel Schomper pada zaman Belanda, sekarang ini menjadi museum Joang '45. Peresmian menjadi museum dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 19 Agustus 1974. Gedung ini besar peranannya terutama pada masa membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI sehingga tepat sekali gedung ini menjadi Museum Joang '45 sebagai wahana pelestarian Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai '45. Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda gedung ini merupakan sebuah hotel mewah bernama Hotel Schomper. Ketika Jepang menduduki Indonesia dijadikan Kantor Jawatan Propaganda Jepang atau Sendenbu. Oleh Jepang kemudian diserahkan kepada para pemuda Indonesia untuk dijadikan tempat pendidikan yang akhirnya dikenal dengan nama Asrama Angkatan Baru Indonesia. Oleh para pemuda gedung ini tidak digunakan untuk membantu Jepang akan tetapi dijadikan tempat penggemblengan dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, dengan tenaga pengajar adalah Ir. Soekarno, Drs.Moh. Hatta, Mr.Mph Tamin, Mr. Soenario, Mr. Achmad Subardjo, Mr. Sjarifuddin, M.Z. Jambek, Mr. Dayoh dan lain-lain. Semua yang diajarkan kemudian disebarkan ke seluruh wilayah nusantara, dengan tujuan yang sama yaitu cita-cita Indonesia Merdeka.Di gedung ini juga didirikan organisasi Banteng yang bertujuan menanamkan rasa kebangsaan dan anti Jepang. Setelah Kemerdekaan pada tanggal 18 Agustus di gedung ini didirikan Komite Van Aksi yang bertugas untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pada tanggal 22 Agustus 1945 gedung ini ditetapkan sebagai markas pemuda. Oleh karenanya terkenal para pemuda Menteng 31. Pada tanggal 20 September 1945 Jepang mengadakan penggerebekan dan penangkapan terhadap para pemuda Menteng 31. Pada tanggal 19 Agustus 1974 Presiden Suharto meresmikan gedung ini sebagai Gedung Joang '45 dan sekarang menjadi Museum Joang '45.
Museum Joang '45 memamerkan benda-benda yang pernah dipergunakan oleh para pejuang Indonesia seperti peralatan perang, atribut, bendera dan lain-lain. Koleksi yang sangat menarik adalah mobil dinas Presiden dan Wakil Presiden RI pertama yang dikenal dengan nomor REP 1 dan REP 2. Museum Joang '45 menampilkan pula koleksi foto-foto dokumentasi dan lukisan yang menggambarkan perjuangan sekitar tahun 1945 - 1950. Beberapa tokoh perjuangan ditampilkan pula dalam bentuk patung dada.

Termasuk dalam pengelolaan Museum ini adalah Gedung Muhammad Husni Thamrin yang terletak di Jalan Kenari 2 No. 5 Jakarta Pusat. Sedang koleksi yang ditampilkan antara lain foto-foto dokumentasi perjuangan pahlawan M.H. Thamrin dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia